Friday, January 25, 2008

Di pulau mimpi...


Aku berbaring di pantai ini. Memandang ombak berkejaran dan pecah di ujung kaki ku. Kulihat semesta laut terhampar seluas mata memandang, pada ujung nya terdapat horizon. Di sepanjang pantai ini, nyiur berjejer dan melambai-lambai tertiup angin. Pohon-pohon rindang berseling di antaranya. Semak dan rumpun liar, bergemerisik dan berbunga warna-warni.
Ku tengadah ke langit. Matahari ramah menyengat. Sekelompok burung terbang melintas tepian pantai menjerit-jerit menyambar pangan di atas laut biru.... Di manakah batas langit itu?
Nun di atas tebing, terletak lah gubuk ku. Terbuat dari kayu umumnya dan pagarnya berwarna putih lapuk terkelupas waktu. Hamparan palawija menghiasi kanan nya dan kawanan kambing merumput di kirinya. Tepat di depannya bunga melati, bugenvile, soka, kacapiring, lamtoro dan disudut ada pohon kersen dengan buahnya yang merah dan lebat...
Di teras panggungnya, seekor anjing dan beberapa kucing tengah mendengkur...
Aku tinggal sendirian di pulau ini, pulau yang entah apa namanya dan ada dimana... Sunyi tapi tak kesepian. Ketika aku senyum teman-temanku senyum untuk ku. Ketika aku menangis, teman-temanku menghiburku... Ya, nyiur itu, pohon itu, semak belukar itu, burung itu, ombak itu, gubuk itu dan segala yang menyertainya adalah teman-teman ku...
Ketika malam menjelang, aku berdiri di atas tebing. Angkasa raya bertabur milyaran bintang. Mereka melambai-lambai ke arah ku mengajak ku lebur dan terbang bersama mereka. Hujan bintang di mana-mana, sekali-kali bintang berekor jatuh di atas legamnya laut malam...
Nun di kejauhan, debur ombak bersahutan dengan jerit lolongan hewan-hewan yang entah apa, menyertai hidup ku pada malam. Ku berjalan menyusuri pantai pulau ini dengan ditemani sisiran ombak yang mengusap tapak kaki ku. Jejak-jejak di pasir itu lekas menghilang, sebagaimana aku ingin menghapus semua masa lalu ku....
Di malam-malam dengan bintang dan materi angkasa lainnya dan diantara lolongan hewan malam dan deburan ombak.... selalu aku berteriak.........................
Berteriak...
"Tuhan bawalah saya ke haribaan MU....!"
Di pulau yang sendiri ini, suaraku bergema dan memantul dari arah tebing-tebing itu....
Apakah Tuhan mendengarkan aku ?

Saturday, January 05, 2008

no matter how...


Let say, anda orang yang sukses menurut pendapat umum, dalam artian, anda punya karir cemerlang di sebuah institusi dimana semua orang menghormati anda, dengan segala fasilitas seperti sopir dan mobil pribadi yang siap mengantar anda kemana saja, sekretaris yang siap melayani anda 24 jam dan semua orang sibuk mencari perhatian anda... Secara intelektual dan akademik anda "cum laude" dimana pendapat anda jadi rujukan dan mempengaruhi orang lain... Anda punya satu rumah yang ada tinggali dan dua rumah lainnya untuk berakhir pekan dengan 3 buah mobil yang berbaris di garasi. Anda makan dan minum makanan sehat dimanapun sesuka anda... Anda pergi kemanapun anda mau. Pendeknya, anda dapatkan semua dunia material yang anda inginkan...

Anda merasa sangat nyaman dengan apa yang ada so that anda merasa tak butuh apapaun...

Tapi,
no matter how succes you are, ada sesuatu yang cacat
yaitu jika di umur anda yang ke-37 anda belum punya istri dan anak2 yang dapat menemani anda menghabiskan sisa umur anda...
Itu adalah cacat yang tidak termaafkan dan terjustifikasikan...

Tuesday, January 01, 2008

cold rainy 1st day...

Waktu menunjukkan jam 11.03 versi jam wekerku. Makassar dingin dan hujan, kontras dengan pergantian tahun semalam. Langit malam di depan balaikota penuh dihiasi kembang api. Pertanyaan yang timbul, berapa banyak uang yang mereka punya sehingga mampu membeli kemeriahan kembang api itu?
Hari pertama tahun 2008 aku abadikan dalam foto2 berikut :




4/1, 11 years ago..


4 Jan '97
Masa depan adalah misterius, bahkan satu jam kedepan tak seorang pun tahu, bahkan kita sendiri pun. Itu akan selalu menjadi pertanyaan besar, bagiku... bagi semua orang yang concern akan masa depannya. Apakah cerah atau suram? Mau jadi apa aku? Suatu saat, akan punya rumah kah, aku? mobil ? keluarga yang mencintai aku? kapan aku mati; besok, lusa, menit depan atau seratus tahun lagi? Menyedihkan kah, matiku ? atau menggembirakanku ?