Wednesday, May 28, 2008

Blue energy : sebuah skandal kah ?

Beberapa minggu lalu, kabarnya "penemu" blue energy, Joko Suprapto menghilang, bahkan ada yang mencurigai dia diculik. Anehnya, yang telibat dalam pencarian kasus menghilangnya Joko justru TNI, bukan kepolisian.
Anehnya, setelah 13 hari dinyatakan menghilang, secara tiba-tiba Joko kembali muncul di kampungnya di Nganjuk dengan diantar orang-orang berbadan tegap. Walaupun mengaku sedang sakit, dia menggelar konferensi pers dan meminta maaf kepada SBY karena "timing yang kita janjikan tidak tepat waktu."
Joko, sebagaimana keterangan tetangga nya di Nganjuk, dalam beberapa tahun ini, tiba-tiba menjadi orang kaya. Dia juga dikenal sebagai orang yang dermawan di kampungnya.
Dilaporkan, Sby pernah 3 kali mengunjungi "pabrik blue energy" yang terletak hanya 2 km dari rumah Sby di Cikeas. Anehnya, pabriknya tsb belum mendapat aliran listrik.
Telah lama dilaporkan, bahwa pemisahan air menjadi H2 dan O2 yang diklaim oleh Joko (atau Tim blue energy?) sebagai hasil temuannya, bukanlah merupakan teknologi baru. Teknologi tsb memang bisa menjadi alternatif untuk menghasilkan energy listrik, termasuk untuk kendaraan. Masalahnya adalah bahwa teknologi tsb sangat mahal, sehingga tidak ekonomis untuk dikembangkan.
Kita masih teringat bagaimana SBY "tertipu" dengan kasus pupuk nutrisi yang ternyata hanya isapan jempol penemu nya. Apakah kali ini Sby juga tertipu kembali oleh Joko ?

Berita terakhir dari detik.com menyatakan Joko sedang dirawat di suatu RS di Jakarta Pusat dan dirahasiakan dan tidak boleh dikunjungi umum. Joko sedang mendapat perawatan dari dokter khusus. Pihak keluarga menyatakan Joko tengah dirawat karena sakit jantung. Pihak keluarga juga nyatakan bahwa mereka akan meminta perlindungan Komnas HAM karena Joko merasa jiwanya terancam. Nah lho ?

Sementara itu, setelah istri Joko menyatakan bahwa dia tidak mengetahui asal-usul Joko dan latar belakang pendidikannya, giliran Dr. Tumiran dari FT UGM nyatakan Joko Suprapto bukan alumni Jurusan Teknik Elektro Ft UGM, sesuatu yang pernah diklaim oleh Joko (atau Tim Blue Energy?) Satu persatu kebohongan semakin terungkap !

Laporan-laporan terakhir tentang penemuan blue energy masih bersifat spekulatif. Tim dari BPPT menyatakan bahwa blue energy tidak ekonomis dan tidak kompetitif. Pekerjaan memisahkan atom H2 yang digunakan untuk membuat hidrokarbon sangat membutuhkan biaya mahal. Penelitian seperti ini sudah banyak dilakukan dan ditemukan, tapi setelah berhasil tetap saja tidak ekonomis dan kompetitif.
Dilaporkan, Tim BPPT pernah menyambangi gerai blue energy pada konferensi internasional perubahan iklim di Bali 2007 lalu dan pihak blue energy terkesan menutup-nutupi temuannya. Saat ditanya teknologi yang digunakan, dijawab :"Kami menggunakan teknologi mata hati." Adalah wajar seorang peneliti melindungi hasil temuannya, tapi jawaban tersebut semakin menimbulkan kesan misterius.
Tim BPPT lain juga mengunjungi stand blue energy dalam konferensi tersebut dan melaporkan bahwa temuan blue energy tak logis. Penilain tsb muncul setelah berbincang dengan tim blue energy yang memunculkan kesan adanya sesuatu yang ditutup-tutupi dan "kebohongan." Dijelaskan, proses merubah air menjadi bahan bakar dilakukan dengan mencampur air laut dengan senyawa tertentu. Namun ketika ditanya bagaimana prosesnya, tim tsb tidak mau menjelaskan dan yang diperlihatkan hanya bensin atau solar yang telah jadi. Mereka mengaku merubah air menjadi bahan bakar tidak memakai alat, hanya dicampur senyawa tertentu. Ada spesial khusus. Eko dari Tim BPPT mengatakan memang benar ada gambar-gambar yang ditunjukkan, tapi tetap saja tidak masuk akal. Jadi seperti berbicara di dunia klenik. "Ya sayang kasihan saja proyek sampai ke Ring 1."
Dari UGM dilaporkan, pakar kimia UGM dan Dr. Tumiran dari Teknik Elektro UGM meragukan temuan bahan bakar dari air. Secara hukum termodinamika, perubahan tsb memerlukan biaya mahal dan besar sekali. "Air secara material sudah seperti itu. Kalau kemudian berubah bentuk lain, bukan pekerjaan mudah." tutur dosen di di TE UGM tsb.

Sementara itu dilaporkan, menyangkut kasus blue energy Komnas Ham menyatakan ada orang di Pemerintahan ancam jiwa Joko. Nah lho ? Dilaporkan, Komnas Ham akan melindungi Joko, karena sebagai penemu blue energy, Joko adalah orang penting yang bisa dianggap mengancam dunia usaha internasional sehingga patut dilindungi. Untuk itu Komnas Ham telah berhubungan dengan RI 1. Logikanya, jika memang temuan Joko sangat penting sehingga bisa mengacaukan dunia bisnis internasional, mengapa pejabat yang mengancam ? Logikanya, jika pejabat yang mengancam, mestinya ada pejabat yang merasa "terancam" atau tertipu dengan temuan Joko tsb ! Nah lho ?


Heru Lelono, staf khusus Sby, nyatakan biaya penelitian untuk blue energy sebesar Rp 10 M dipenuhi oleh swasta, bukan oleh Pemerintah. Termasuk juga penelitian untuk padi ubggul, Supertoy HL2. Swasta dimaksud adalah PT. Sarana Harapan Indopangan, yang komisaris utamanya adalah Heru Lelono. Jarak laboratorium dari rumah Sby adalah 2 km, dan lab ini pernah dikunjungi Sby sebanyak 3 kali. Heru Lelono juga adalah Ketua Tim Blue energy.

Temuan mengenai bahan bakar yang terbuat dari air sebetulnya telah dipatenkan oleh Meyer dari AS dengan tajuk method for the production of a fuel gas tahun 1990 yang mengklaim temuan yang dia populerkan dengan nama Water Fuel Cell ini mampu memecah air menjadi H2 dan O2. Meyer menjelaskan bahwa dia mengganti busi dengan injeksi untuk menyemprotkan uap ke silinder. Uap itu kemudian dipecah menjadi H2 dan O2 dan selanjutnya masuk ruang pembakaran seperti pada motor konvensional. Temuannya tsb telah dia deskripsikan pada Rexresearch dan divideokan dengan tajuk It Runs With Water. Temuan tsb juga telah didemontrasikan dan diklaim telah diuji dengan perjalanan LA-New York dengan hanya 83 liter air. Namun, pada tahun 1996 Pengadilan Ohio menyatakan bahwa temuan Water Fuel Cell merupakan penipuan karena, ketika temuan tersebut akan diuji di pengadilan oleh saksi ahli Prof. Michael Laughton dari Queen Mary, University of London, Meyer menghindar dengan alasan yang dibuat-buat. Berdasarkan kesaksian 3 saksi ahli dinyatakan bahwa "temuan" tsb sama sekali tidak revolusioner. Tahun 1998 Meyer meninggal akibat suatu penyakit.

Yang masih menjadi pertanyaan adalah : 1. Mengapa Joko menghilang ?, 2. mengapa kasusnya ditangani oleh TNI dan bukan oleh polisi ?, 3. Darimana asal kekayaan Joko yang semakin besar dalam beberapa tahun ini ?, 4. Mengapa pabrik blue energy letaknya dekat rumah Sby di Cikeas ?, 5. Mengapa Joko meminta maaf kepada Sby ?, 6. Bagaimana klaim bahwa Joko penemu blue energy padahal telah ada sebelumnya ?, 7. Mengapa Joko diancam dibunuh ?, 8. Benarkah pejabat Pemerintah yang mengancam Joko dan apa motif nya ?

No comments: